Peluang Usaha Sulap Adalah Tambang Emas Hiburan


Dalam sebulan, Muthia mendapat tambahan omzet dari sekolah sulap itu sebesar Rp 15 juta. Tak hanya itu, Muthia juga mendulang omzet tambahan dari penjualan peralatan sulap yang besarnya bisa mencapai Rp 10 juta per bulan. "Konsumen toko kebanyakan siswa kami sendiri," terangnya.  Pemain lain bisnis jasa pertunjukan sulap itu adalah Bali Magic Entertainment (BME) di Denpasar, Bali. BME ini sudah melayani pertunjukan sulap sejak 2008.  Alfian Elfuero, konseptor pertunjukan sekaligus juru bSulap sangat menghibur, sulap mampu mendatangkan banyak duit. Selain hadir di televisi, atraksi penuh muslihat dari para pesulap juga bisa diundang untuk acara ulang tahun, perayaan hari raya atau tahun baru. Dalam sebulan penyedia jasa sulap meraup omzet puluhan juta rupiah.

Maraknya pertunjukan sulap di televisi membuat pamor hiburan ini semakin berkilau. Atraksi-atraksi unik yang membuat decak kagum itu semakin banyak digelar. Tak mengherankan jika pelaku usaha pertunjukan sulap bisa meraup laba yang lumayan.

Salah satu penyedia jasa pertunjukan sulap itu adalah Muthia Triani, pendiri sekaligus pemilik Magic Mania School of Magic di Serpong, Tangerang Selatan. Muthia mengaku kerap diundang untuk menunjukkan keahlian sulapnya, baik untuk acara televisi hingga acara ulang tahun.

Untuk sekali tampil, Muthia memasang tarif mulai Rp 2 juta sampai Rp 30 juta, tergantung jenis acara atau tingkat kesulitan sulap yang dia tampilkan. “Setiap bulan setidaknya Rp 40 juta bisa kami dapatkan,” kata Muthia.

Selain menerima jasa sulap, Muthia juga memiliki sekolah sulap. Tempat pendidikan pesulap itu berdiri setelah Muthia membentuk komunitas pesulap pada tahun 2007.

Dari sekolah itulah Muthia mencari bakat pesulap untuk mendukung pertunjukan sulapnya. “Kami memberikan kesempatan pentas bagi siswa yang layak tampil,” ujar Muthia.

Seperti layaknya sekolah formal, sekolah sulap itu juga memiliki kurikulum. Sekarang ini, sekolah sulap itu memiliki 50 siswa dari usia 5,5 tahun sampai 50 tahun. Setiap siswa wajib membayar iuran Rp 350.000 per bulan.

Dalam sebulan, Muthia mendapat tambahan omzet dari sekolah sulap itu sebesar Rp 15 juta. Tak hanya itu, Muthia juga mendulang omzet tambahan dari penjualan peralatan sulap yang besarnya bisa mencapai Rp 10 juta per bulan. “Konsumen toko kebanyakan siswa kami sendiri,” terangnya.

Pemain lain bisnis jasa pertunjukan sulap itu adalah Bali Magic Entertainment (BME) di Denpasar, Bali. BME ini sudah melayani pertunjukan sulap sejak 2008.

Alfian Elfuero, konseptor pertunjukan sekaligus juru bicara BME bilang, dalam menawarkan jasa, mereka tidak mematok tarif tertentu. Tarif mereka tergantung kesepakatan dengan pengguna jasa. “Tarif kami antara Rp 200.000 sampai Rp 5 juta untuk pertunjukan selama 30 menit sampai satu jam,” terang Alfian. Dari usaha jasa ini, dalam sebulan setidaknya BME bisa memperoleh omzet hingga Rp 20 juta.

Dalam sebulan, BME menerima lima pertunjukan yang biasanya datang dari perhotelan atau perusahaan yang ada di Bali. “Kebanyakan atraksi kami untuk acara ulang tahun atau perayaan hari raya dan juga tahun baru,” imbuhnya.

Alfian mengaku, laba pertunjukan lebih banyak digunakan untuk investasi peralatan sulap yang kian mutakhir. “Sulap adalah seni dan segala yang berhubungan dengan seni selalu berkembang,” terang Alfian.

Seperti halnya Magic Mania, BME juga berdiri dari latar belakang komunitas pesulap di Bali. Anggota komunitas sepakat bersama-sama mendirikan lembaga bisnis pertunjukan sulap. “Selain pertunjukan, kami juga melayani kursus sulap,” tuturnya.

BME juga memberi kesempatan peserta kursus untuk tampil dalam pertunjukan sulap. Namun ongkos belajar sulap di BME lebih mahal. Untuk mengikuti kursus sulap, setiap peserta wajib membayar Rp 800.000-Rp 1,5 juta per bulan, tergantung level sulap yang diajarkan. “Kami mengajarkan pengetahuan psikologi, pemasaran dan ilmu terapan sulap lainnya,” jelas Alfian yang memiliki delapan peserta kursus per bulan.

Sumber